• Minggu, 22 Mei 2022

Basmi Hama Tikus di Sawah, Polda Jawa Tengah Dorong Petani Ganti Jebakan Listrik dengan Serak Jawa

- Minggu, 9 Januari 2022 | 15:12 WIB
Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi pada rilis akhir tahun 2021 di Gedung Borobudur Polda Jateng, Jumat (31/12/2021). (SMSolo/dok)
Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi pada rilis akhir tahun 2021 di Gedung Borobudur Polda Jateng, Jumat (31/12/2021). (SMSolo/dok)

Kanaljateng.com - Kepala Polda Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Ahmad Luthfi, mendorong kepada petani untuk memanfaatkan burung hantu spesies Serak Jawa dalam membasmi hama tikus.

Menurut Luthfi, memanfaatkan Serak Jawa jauh lebih aman dan efektif dalam membasmi tikus di area persawahan ketimbang membuat jebakan listrik.

"Burung ini bisa mengkonsumsi tikus 2 sampai 3 ekor tikus per malam, sehingga sebulan bisa mencapai 60 sampai 90 ekor tikus. Jadi sangat efektif untuk membantu petani membasmi tikus di persawahan," kata Ahmad Luthfi, Semarang, Jawa Tengah, Minggu, 9 Desember 2022.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, Bintang di Surga versi Noah Trending Nomor 1 YouTube di Dua Kategori


Luthfi mengapresiasi kepada para petani yang membudidayakan burung dengan nama latin Tyto Alba tersebut dalam melincungi tanaman padi di area persawahan. Sebab, Serak Jawa merupakan musuh alami tikus.

"Cara-cara lain untuk membasmi tikus seperti menggunakan jebakan listrik adalah ilegal. Polda Jateng dan jajaran akan menindak tegas pemilik atau pemasang jebakan tikus yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia," tegas Luthfi.

Sebelumnya, Polda Jawa Tengah menyoroti maraknya pemakaian jebakan tikus di area persawahan dengan mengaliri arus listrik.

Baca Juga: Elektabilitas Gibran Moncer di Pilkada Jateng 2024, PDI-Perjuangan Ungkap Sejumlah Kejanggalan

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar M iqbal Alqudusy, mengatakan korban jiwa akibat warga tersengat arus listrik dari jebakan tikus itu sudah cukup banyak di Jateng.

"Sudah banyak korban jiwa yang meninggal akibat jebakan listrik di persawahan. Terakhir seminggu lalu, Hadi Sukarno, 65, warga Patihan Sidoharjo, Sragen meninggal karena jebakan listrik. Dia menjadi korban ke-23 kasus seperti sejak 2020 di Sragen" kata Iqbal.

Menurut Iqbal, kasus kematian akibat tersengat arus listrik dari jebakan tikus itu, antara lain pernah terjadi di Sragen dan Kudus.

Baca Juga: Kevin Aprilio Sambangi Instagram Doddy Sudrajat: Udah Kali, Pak

Iqbal mengungkap kebanyakan kasus seperti ini mengandung unsur penyalahgunaan izin pemasangan listrik yang semula untuk pompa air tapi juga digunakan untuk memasang jebakan tikus.

"Jatuhnya korban jiwa karena jebakan listrik itu seperti itu patut disayangkan. Pemasangan jaringannya bisa jadi tidak sesuai prosedur keselamatan dan ilegal," tegas Iqbal.

Iqbal mengatakan memasang jebakan tikus dengan mengaliri arus listrik berpotensi pidana apabila sampai menamakan korban.

Baca Juga: Kronologi Ashanty Positif Covid-19 usai Liburan di Turki

"Menghilangkan nyawa orang lain seperti itu melanggar pasal 359 KUHP yang berbunyi barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun," jelas Iqbal.

Iqbal meminta petani segera mengurungkan niat memasang jebakan listrik.

"Itu pelanggaran dan berkonsekuensi pidana. Siapa yang masih melanggar, beresiko dipenjara," tegas Iqbal.***

Editor: Mustholih

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X