• Minggu, 22 Mei 2022

Layangan Putus, Adaptasi Kisah yang Tidak Mendidik Masyarakat dan Fakta Hukum tentang Perselingkuhan

- Selasa, 18 Januari 2022 | 20:57 WIB
Trailer layangan putus episode 10. (Dok. WeTV)
Trailer layangan putus episode 10. (Dok. WeTV)

Kanaljateng.com - Seri web drama Indonesia berjudul Layangan Putus yang diperankan oleh Putri Marino (Kinan), Reza Rahadian (Aris), dan Anya Geraldine (Lydia) telah menjadi perbincangan yang hangat di jagad publik Tanah Air.

Drama yang diproduksi MD Entertainment ini telah menyeret emosi para pemirsa ke dalam kehidupan nyata. Fenomena melankolis tampil secara kolosal dengan bumbu kecurigaan antar pasangan telah terjadi dalam kehidupan nyata.

Drama yang diadaptasi dari Novel Karya Mommy ASF atau Eka Nur Prasetya telah menjadikan para pemirsa menjadi baper tingkat Dewa. Korosif kepercayaan terhadap pasangan telah terjadi dalam pasangan muda di dalam kehidupan nyata.

Baca Juga: Rawan Disusupi AS, Swiss Larang Tentaranya Gunakan WhatsApp, Telegram, dan Signal

Kisah dalam sekuel drama tersebut benar-benar telah menyeret perasaan ke dalam ruang kegalauan bagi para pemirsa. Akting berkarakter dari Reza Rahardian sang pemeran aris yang pandai menyembunyikan perselingkuhan serta perilaku Lydia (diperankan Anya Geraldine) sebagai sosok pelakor matre dan memiliki sifat khianat karena berselingkuh juga dengan pria lain, menjadi pemicu sikap baper bagi para ibu-ibu dalam dunia nyata untuk berperilaku sangat protektif terhadap suami mereka.

Sifat posesif buta yang dibungkus dengan pembenaran antisipatif adalah media mereka untuk bersikap seprotektif mungkin terhadap pasangan. Hal ini semata-mata karena terobsesi atas kisah dalam drama Layangan Putus, sehingga yang terjadi adalah kegerahan bagi para suami di dunia nyata.

Sikap Kinan yang diperankan oleh Putri Marino sebagai istri yang dikhianati telah menuai banyak simpati. Bahkan, dengan penuh emosional, ibu-ibu di dalam dunia nyata menempatkan sebagai sumber inspiratif untuk bertindak secara absurd. Sebab sikap itu ditenggarai hanya karena paranoid (ketakutan yang berlebih lebihan) para ibu-ibu yang merasa tidak bisa berperilaku seperti Kinan ketika menghadapi kenyataan pasanganya melakukan perselingkuhan.

Baca Juga: Kereta Api Anjlok di India, 5 Penumpang Tewas dan 50 orang Luka-luka

Dalam dunia nyata, banyak suami kini justru merasa menjadi korban atas sikap antisipatif berlebihan yang dilakukan oleh istri. Tiap kali tayang episode drama Layangan Putus, nitizen selalu mengelu-elukan Kinan sebagai sosok hero yang mewakili semua kepentingan para istri di zaman kini. Kepahlawan Kinan nampaknya telah mampu menggeser kepopuleran para pahlawan yang memperjuangkan emansipasi yang tercatat dalam sejarah.

Kegelisahan publik yang larut dalam cerita drama Layangan Putus bukan isapan jempol belaka. Pada kenyataanya, terlihat beraneka ragam akting parodi yang membanjiri dunia sosial media. Parodi-parodi itu merupakan kreativitas yang muncul karena ekspresi kegelisahan.

Dalam sisipan kisah drama Layangan Putus, yang cukup menarik untuk dikritisi adalah narasi yang dibangun Kinan; jika perselingkuhan dapat serta merta dilaporkan ke Kepolisian karena merupakan tindak pidana. Sudut pandang Kinan ini justru menyesatkan publik.

Baca Juga: Menyinggung Perasaan warga Penerima Bantuan, Ganjar Ubah Judul Vlog Jadi lebih Soft

Dalam literasi hukum kita tidak ada pengertian secara limitatif, jika perselingkuhan dapat serta merta dilaporkan Polisi karena merupakan tindak pidana. Dalam KUHP yang masih berlaku hingga saat ini, tidak diatur secara khusus mengenai istilah perselingkuhan.

Istilah yang ada dalam KUHP sebagaimana termaktub dalam terjemahan Prof. Oemar Seno Adji, S.H., yakni istilah mukah (overspel). Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel). Padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya.

Perselingkuhan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu a. suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong, b. suka menggelapkan uang, korup, c. suka menyeleweng. Selain dilarang oleh agama, perselingkuhan juga dapat menjadi pemicu retaknya rumah tangga.

Baca Juga: DPRD Jawa Tengah Kritik Pendekatan Ganjar Atasi Kemiskinan: Cenderung Pencitraan!

R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 209) menjelaskan lebih lanjut mengenai gendak/overspel atau yang disebut sebagai zinah adalah persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan isteri atau suaminya.

Untuk dapat dikenakan pasal ini, maka persetubuhan itu harus dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak boleh ada paksaan dari salah satu pihak. Di dalam buku itu diterangkan bahwa pengaduan ini tidak boleh dibelah. Maksudnya, apabila Anda mengadukan bahwa suami/istri telah berzinah dengan perempuan/laki-laki lain, maka suami/istri anda maupun perempuan/laki-laki tersebut yang turut melakukan perzinahan, kedua-duanya harus dituntut.

Jika memang Anda memilih penyelesaian melalui jalur pidana, prosedur atau pun tata cara yang dapat ditempuh adalah mengadukan kepada kepolisian setempat karena tindak pidana perzinahan ini termasuk delik aduan (klacht delict).

Baca Juga: DPRD Jateng Fraksi PDI-Perjuangan Bela Fajar Kembalikan Bantuan dari Ganjar: Harga Dirinya Terusik!

Ditegaskan oleh R. Soesilo bahwa Pasal 284 KUHP ini merupakan suatu delik aduan yang absolut, artinya tidak dapat dituntut apabila tidak ada pengaduan dari pihak suami atau isteri yang dirugikan (yang dimalukan). Kemudian mengenai sanksi yang dapat diterima oleh pelaku perzinahan, merujuk pada ketentuan Pasal 284 ayat (1) angka 1 huruf a KUHP, pelakunya diancam pidana penjara paling lama sembilan bulan. Hal ini berlaku untuk suami/istri Anda maupun perempuan/laki-laki yang menjadi pasangan zina tersebut.

Dalam literasi hukum tersebut jelas, yang termasuk tindak pidana adalah perzinahan dan/atau persetubuhan bukan perselingkuhanya atau berhubungan badan (telah terjadi penetrasi alat kelamin). Jika hanya berciuman dan meremas payudara atau ketangkap basah di tempat tertentu keduanya tidak dapat dipidana.

Dalam web drama Layangan Putus, tidak secara pasti Kinan menyebutkan sasaran laporan polisi untuk mengintimidasi aris dan lidya  adalah perzinahan dan atau persetubuhan yang dilakukan mereka. Sementara secara materiil terpenuhinya unsur tindak pidana perzinahan adalah sedemikian rupa. Tidak asal tuduh dengan mengeneralisir perselingkuhan sudah otomatis perzinahan.

Baca Juga: Kemenkes Terbitkan Surat Edaran Vaksinasi Booster ke Kepala Dinas se-Indonesia

Jika tidak diikuti dengan terjadinya kesesuaian antar alat bukti maka yang terjadi laporan tersebut tidak terbukti. Jika tidak terbukti maka bisa berlaku ketentuan laporan palsu sebagaimana dimaksud dalam pasal Pasal 220 KUHP yang menyebutkan, "barang siapa memberitahukan atau mengadukan bahwa telah dilakukan suatu perbuatan pidana, padahal mengetahui bahwa itu tidak dilakukan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan."

Laporan palsu juga dapat berlaku pula perbuatan fitnah dan pencemaran nama (penghinaan) diatur dan dirumuskan dalam Pasal 310 KUHP, yang terdiri dari 3 (tiga) ayat.Menista dengan lisan (smaad).

Dengan demikian gambaran sikap Kinan yang dapat menjadi inspirasi bagi para ibu-ibu dalam dunia nyata, adalah sesuatu yang menyesatkan dan tidak mendidik masyarakat secara benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Baca Juga: TV Analog mulai Disuntik Mati 30 April 2022, Simak Daerah-daerah di Jateng yang Pertama Dapat Giliran

Mencermati secara seksama alur dan ending dari cerita drama tersebut memang suatu keniscayaan dalam kehidupan nyata. Ending yang dicapai adalah ending yang tidak mendidik bagi masyarakat luas. Ending yang hanya berpola dari harga diri. Seperti terlihat dalam ucapan kinan saat ketemu Lidya yang menyebutkan, "terkadang apa yang kita miliki sebagai seorang perempuan adalah harga diri, dan yang sedang saya pertahankan sekarang adalah harga diri. Bukan suami, bukan juga pernikahan, jika kamu tadi bilang yang tersisa di saya dari Mas Aris hanya Raya.  Kamu kira aku peduli? Saya tidak peduli sama sekali!!"

Sikap Kinan yang mendalihkan prinsip "harga diri" tentu dapat menjadi landasan dan sumber inspirasi sikap bagi para ibu-ibu muda untuk mengambil sikap secara instan ketika menghadapi kondisi yang serupa. Ini berarti drama tersebut patut diduga bertendensi untuk mendorong pasangan muda untuk memilih pilihan kawin cerai.

Perkawinan sakral yang di dalamnya lazim terdapat bumbu-bumbu konflik sebagai media untuk meneguhkan kesakralan pernikahan, akan tergeser seiring dengan sikap instan, yaitu mengambil keputusan bercerai. Tanpa mencoba pilihan optik alternatif lain untuk menyelesaikan permasalahan dalam keluarga.

Baca Juga: Warga Indonesia, Ghozali Everyday, Mendunia Gara-gara Jual Foto Selfie Senilai Rp8 Miliar

Jika kondisi itu terjadi, maka telah terjadi penurunan peradaban manusia pada satu sisi. Sebab orang zaman dulu, meski tidak berpendidikan tinggi, sepertinya bisa berfikir lebih visioner dengan sekuat tenaga mempertahankan pernikahan dengan mampu mengambil intisari yang terkandung dalam setiap dinamika konflik dalam rumah tangga. Tinimbang lekas-lekas mengambil pilihan bercerai dengan dalih harga diri dengan tidak memperdulikan  aspek lain.

Seperti yang dicontohkan oleh Kinan terkait efek anak akibat perceraian, dia bertekad dan memastikan untuk mengajarkan prinsipnya tersebut kepada anaknya. Jika demikian, generasi yang tumbuh secara berkelanjutkan adalah generasi yang berwatak keras kepala tanpa diajarkan prinsip kebijaksanaan hidup.

Narasi web drama tersebut nampaknya telah membenarkan studi yang dilakukan Prof. Eli Finkel, ilmuwan psikologi yang menulis buku berjudul The All-Of-Nothing Marriage: How the Best Marriages Work. Eli Finkel menyampaikan bahwa hubungan masa kini sangat berat dan 42 persen pernikahan berakhir dengan perceraian. Riset tersebut menyampaikan pengertian tentang pernikahan telah banyak berubah seiring berjalannya waktu. Dan sebagian besar dari kita menuntut banyak hal dari pasangan kita lebih dari yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Baca Juga: Jelang MotoGP Indonesia 2022 di Mandalika, Jokowi Tinjau Kesiapan Bandara Zainuddin Abdul Madjid

Prof. Eli Finkel menjelaskan gaya hidup dan budaya zaman sekarang ikut membawa perubahan bagaimana orang melihat pernikahan dalam 100 tahun terakhir. Ada harapan tinggi dalam masyarakat masa kini bahwa pasangan mereka mengizinkan mereka untuk 'tumbuh', seperti mengejar karir meski menikah, melanjutkan sekolah meski ibu rumah tangga, tetap bekerja meski beranak dan lain-lain.

Halaman:

Editor: Mustholih

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X