• Kamis, 18 Agustus 2022

Sri Mulyani Beri Kabar baik, Pendapatan Negara hingga April 2022 Bertumbuh 45,9 Persen

- Rabu, 8 Juni 2022 | 14:16 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar Puteri Komarudin dihadapan Menkeu Sri Mulyani Indrawati meminta APBN harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat (AG Sofyan)
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar Puteri Komarudin dihadapan Menkeu Sri Mulyani Indrawati meminta APBN harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat (AG Sofyan)

Kanaljateng.com -- Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkap hingga 30 April 2022 pendapatan negara mencapai mencapai Rp853,6 triliun atau tumbuh 45,9 persen.

Pendapatan ini berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp676,1 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp177,4 triliun.

“Artinya, penerimaan negara kita memang menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa tinggi sampai dengan akhir April dan kita perkirakan akhir Mei masih bertahan,” kata Sri Mulyani Indrawati dikutip dari Kemenkeu, Rabu, 8 Juni 2022.

Baca Juga: 2 Calon Haji Indonesia Jatuh Sakit Akibat Sengatan Suhu Panas Arab Saudi, Jalani Rawat Inap di Madinah

Dengan capaian ini, Sri Mulyani Indrawati memperkirakan penerimaan negara sampai akhir 2022 bakal mencapai Rp2.266,2 triliun.

Dengan begitu, pendapatan negara pada 2022 lebih tinggi Rp420,1 triliun dari target APBN 2022 yang sebesar Rp1.846,1 triliun.

“Ini berarti berita baik kalau Indonesia punya pendapatan Rp420 triliun di atas yang ada di dalam Undang-Undang APBN,” ujar Sri Mulyani menegaskan.

Baca Juga: 8 Langkah Membuat French Toast dari Chef Devina, Garing di Luar, tapi Lembut di Dalam!

Selain itu, kata Sri Mulyani, hingga April 2022, realisasi belanja negara mencapai Rp750,5 triliun.

Realisasi itu terdiri dari belanja kementerian lembaga (K/L) Rp253,6 triliun, belanja non-K/L Rp254,4 triliun, dan belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) Rp242,4 triliun.

Sri Mulyani berujar belanja belanja negara 2022 diperkirakan juga bakal meningkat hingga Rp3.106,4 triliun, dari yang semula Rp2.714,2 triliun.

Baca Juga: Biayai Pembangunan Jalan Tol Jawa Bagian Selatan Tahap Dua, IsDB Kucurkan Dana Senilai USD450 juta

Peningkatan belanja negara digunakan untuk subsidi energi, kompensasi BBM dan listrik, dan tambahan bantuan sosial.

“Ini adalah konsekuensi kalau kita ingin melindungi daya beli masyarakat dengan menahan harga yang melonjak sangat tinggi di seluruh dunia untuk energi dan juga untuk subsidi,” jelas Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, Pemerintah terus berkomitmen untuk menurunkan defisit APBN pada 2022.

Baca Juga: Jemaah Haji harus Waspadai Sengatan Lantai Masjid Nabawi, Tidak Pakai Sandal Mampu Bikin Kaki Melepuh

Ini sejalan kebijakan konsolidasi fiskal dengan defisit paling tinggi sebesar 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2023.

Sri Mulyani menegaskan Pemerintah masih tetap ekspansif menjaga keseimbangan antara kemampuan menjaga momentum pemulihan dengan pengendalian risiko fiskal jangka menengah.

Selain itu, Pemerintah juga mendorong pembiayaan inovatif dengan kerja sama swasta, BUMN, dan Badan Layanan Umum (BLU).

“Karena APBN masih akan menjadi stabilizer alokasi distribusi, maka kita masih menjaga defisitnya masih di 2,61 hingga 2,90 persen dari PDB. Tetap konsolidasi, namun tidak sedrastis kalau kita ingin APBN-nya langsung defisitnya mendekati 0,” beber Sri Mulyani.***

Editor: Mustholih

Sumber: Kemenkeu.go id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X